Turun Kuota Pupuk Urea di Bali, Organik Naik


 

Inilah salah satu proses pembuatan pupuk organik di Bali. (Foto: inilahbali.com)

Inilah salah satu proses pembuatan pupuk organik di Bali. (Foto: inilahbali.com)

inilahbali.com, Denpasar – Kuota pupuk urea di Bali tahun ini anjlok dibanding tahun lalu. Yakni dari 42.480 ton tahun lalu, tahun ini hanya 36.200 ton.

“Tahun ini kuota pupuk urea untuk Bali menurun dibanding tahun tahun lalu,” ujar Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Tanaman pangan Provinsi Bali, Wayan Sunarta, Senin (13/1).

Penurunan juga terjadi pada pupuk  ZA yakni dari 7.700 ton pada 2013 menjadi 6.000 ton tahun ini. Begitu juga jenis NPK dari 22.854 ton realisasi pada 2013, tahun ini jatahnya turun menjadi 19.800 ton.

“Namun turunnya kuota pupuk urea di Bali diimbangi dengan kenaikan subsidi pupuk organik,” jelas Sunarta.

Menurut Sunarta, besaran subsidi pupuk organikdari Pemprov Bali tahun ini mencapai Rp10 miliar,naik dari Rp4miliar tahun lalu. Dengan besarnya nilai subsidi ini, maka akan bisa lebih banyak menyediakan kuota pupuk organik dengan harga murah,yakni mencapai 21.600 ton.Angka ini meningkat dari realisasi tahun lalu 19.144 ton.

“Peningkatan subsidi maupun kuota pupuk organik di Bali ini sejalan dengan komitmen program Bali Mandara dalam menuju Bali sebagai provinsi organik,” terang Sunarta.

Salah seorang petani di Desa Megati Kabupaten Tabanan, Wayan Suadika mengaku tak masalah dengan kebutuhan pupuk, karena sudah beralih pada penggunaan pupuk organik, selain murah juga mudah diperoleh. (ana)

 

Ramdor Cruise Tanah Ampo Karangasem Rusak

 

Dermaga pesiar Tanah Ampo saat dalam proses pengerjaan.  (Foto: inilahbali.com)

Dermaga pesiar Tanah Ampo saat dalam proses pengerjaan. (Foto: inilahbali.com)

inilahbali.com, Karangasem – Ketua Komisi A DPRD Karangasem, I Wayan Tama terus mendesak pemerintah pusat melalui pihak eksekutif Pemerintah Kabupaten Karangasem agar segera dilakukannya perbaikan atas kerusakan ramdor di pelabuhan wisata Tanah Ampo Manggis Karangasem.

“Kami berharap pemerintah pusat agar segera membantu perbaikan kerusakan ramdor cruise Tanah Ampo, sehingga dermaganya bisa beroperasi  normal kembali,” ujar Ketua Komisi A DPRD Karangasem, Wayan Tama, Minggu (12/1).

Bagi Tama, pelabuhan pesiar Tanah Ampo yang keberadaannya sangat strategis  itu dinilai mampu memberikan imbas ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat sekitarnya.

“Keberadaan cruise itu benar-benar dirasakan memberikan multiflier effect bagi perekonomian masyarakat setempat,”  jelas Tama. Termasuk juga dari kalangan PHRI sangat berkepentingan dengan beroperasi pelabuhan ini, takterkecuali kalangan sopir-sopir.

“Jadi kami sudah sering sampaikan lewat pihak eksekutif Pemkab Karangasem agar pemerintah pusat bisa segera menganggarkan dana untuk perbaikan ramdornya,” tandas Tama.

Tama mengungkapkan, ketika pelabuhan itu operasi sejak awal,  dampak ekonominya sangat dirasakan oleh masyarakat setempat dan sekitarnya. Sebab sejumlah kapal pesiar yang merapat membawa banyak wisatawan. Namun sejak ramdornya rusak, aktivitas di dermaga itu nyaris vakum.

Menurut Tama, secara garis besar ada tiga pihak yang ikut berperan dalam mewujudkan pelabuhan wisata Tanah Ampo tersebut. Yakni Pemkab Karangasem dalam pengadaan lahan di darat, Pemprov Bali membangun gedung di atas lahan tersebut,serta pelabuhan/dermaganya dibiayai dana APBN.

“Jadi karena yang rusak adalah peralatan di bagian dermaganya, maka kami harapkan pemerintah pusatlah yang menanganinya,” harap Tama. (ana)

 

Inilah Hotel di Kerobokan Bali Dijual Harga ‘Miring’

fasilitas kamar  hotel bintang 3

fasilitas kamar hotel bintang 3

Suasana hotel dengan fasilitas kolam renang...(Foto2: inilahbali.com)

Suasana hotel dengan fasilitas kolam renang…(Foto2: inilahbali.com)

inilahbali.com, KUTA – Bagi peminat bisnis properti khususnya di bidang akomodasi (hotel) di Bali, ini bisa menjadi salah satu pilihan jitu. Hotel bernuansa vila di kawasan ‘kampoeng villa’ Kerobokan Kuta Bali ini memiliki kelebihan. Salah satunya, sudah memetik keuntungan sejak beroperasi sejak 3 tahun lalu.

“Kalau misalnya nanti pembeli hotel ini ingin menggunakan manajemen yang kami punya, siap memberikan keuntungan bersih Rp 45 juta per bulan ke pemilik baru,” ujar Sri, penjual hotel ini, Jumat (10/1).

Sri menjelaskan, izin pembangunannya menggunakan recidence, namun operasionalnya hotel yang fasilitasnya setara dengan hotel bintang tiga.

Hotel tersebut berdiri di atas lahan seluas 1000 M2 (10 are), dengan jumlah kamar keseluruhan 20 kamar dengan bangunan dua lantai (10 kamar di bawah dan 10 kamar di lantai dua). Masing-masing kamar berukuran 7x 3,6 meter. Fasilitas pendukung kamar setara dengan hotel bintang 3,termasuk ada fasilitas kolam renang cukup luasdi bagian depan kamar.

Secara lebih rinci, posisi hotelini sangat strategis, yakni hanya 10 menit menuju pusat belanja Seminyak, 10 menit ke pantai Kuta, 25 menit berkendara ke bandara Ngurah Rai, 25 menit ke Kota Denpasar, 10 menit ke Echo Beach, 15 menit ke Nirwana Bali Golf dan 40menit menuju kawasan wisata Ubud Gianyar.

Harga yang ditawarkan Rp24 miliar dan masih bisa nego tipis. “Itu termasuk harga penawaran, dan masih bisa dinego kalau sudah lihat lokasinya,” ujar Sri. (ana)

wajah bagian depan hotel tampak asridengan lingkungan vila.

wajah bagian depan hotel tampak asridengan lingkungan vila.

DATA HOTEL:
-Luas lahan : 1000 meter (10 are)
-Jumlah kamar : 20 kamar (10 di lantai satu dan 10 di lantai dua).
-SHM, perorangan
-Fasilitas parkir yang luas di bagian depan hotel.
(Bagi peminat serius bisa menghubungi: Surya di 0811 3800 999).***

Museum Kain di Bali Hadirkan “Ganefo” Soekarno

Batik motif  "Ganefo" (kiri) menghiasi koleksi Museum Kain di Kuta Bali. (Foto: inilahbali.com)

Batik motif “Ganefo” (kiri) menghiasi koleksi Museum Kain di Kuta Bali. (Foto: inilahbali.com)

inilahbali.com, KUTA – Satu lagi daya tarik wisata hadir menghiasi Bali, tepatnya di areal Beachwalk Kuta. Daya tarik wisata nirlaba ini boleh jadi satu-satunya yang menembus komplek mal di ‘kampung’ turis ini.

Itulah “Museum Kain”. Begitu memasuki ruang ini dari pintu depan, akan sangat terasa kesan eksotik, klasik, kreatif dan sekaligus modern dalam suasana temaram. Lokasinya, tepatnya berada di lantai tiga paviliun Alang-alang Beachwalk.

Sejumlah tampilan unik pun akan menyambut pengunjung. Mulai dari bentangan kain batik putih berbahan sutra layaknya layar. Dengan didukung proyektor, kain bagian atas itu pun tampak memunculkan warna-warni mirip pelangi yang bergerak pelan layaknya bergelombang dari kanan ke kiri.

Pada saat yang bersamaan, pengunjung pun akan segera mendengar suara samar-samar yang keluar dari lubang-lubang kecil pada tabung besi berukuran diameter sekitar 10 cm posisi tegak hampir 2 meter tingginya. Saat telinga didekatkan ke lubang-lubang yang bercahaya merah itu, suara pun makin nyaring terdengar.

“Ini sound tube, yang memperdengarkan suara analognya Ibu Obin (Josephine “Obin” Komara, pemilik Museum Kain) tentang seputar kain,” ujar Juliana Taufik, Manajer Museum Kain ketika inilahbali.com mengunjungi museum ini, Sabtu (4/1).

Tak jauh dari posisi itu, di bagian kiri, pengunjung sudah disuguhi puluhan aneka foto yang terpampang di dinding. Secara eksplisit sangat jelas subjek-subjek di dalam foto-foto menonjolkan penggunaan kain dalam kehidupan manusia. Pesan yang ingin disampaikan pun jelasbahwa bahwa betapa pentingnya fungsi dan peran kain dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia dari masa ke masa.

Kesan modern dan berteknologi tinggi pada museum ini tampak ketika pengunjung berada di depan pajangan kain-kain langka koleksi BINhouse. Sebab dengan perangkat layar sentuh yang dipasang di depan kain, pengunjung dengan enteng bisa mengetahui identitas kain yang ingin diketahui. Mulai dari nama kain, asal usul, bahannya, tahun pembuatan, asal daerahnya, ukurannya, dan sebagainya.

“Secara garis besar koleksinya memang dikelompokkan,” jelas Juliana. Memang meski sudah dilengkapi data yang bisa diakses lewat layah sentuh, namun dari pihak pengelola museum tetap menyediakan pemandu.

Menurut Juliana, pengelompokan terbagi atas empat bagian berdasarkan asalnya. Yakni kelompok pesisir Utara Jawa seperti Tuban (Jawa Timur), Juana, Rembang dan Kudus. Ada juga kelompok sakral yakni yang berasal dari Cirebon, Surakarta dan Jogjakarta. Kelompok lainnya dari Jawa Barat dan Madura, serta kelompok masterpiece dari BINhouse milik Obin.

Salah satu kain batik antik asal Tuban Jawa Timur adalah kain dengan motif semen yang dibingkai lidah api atau cemukiran. Kain berwarna alami indigo yang berasal dari tahun 1900 ini menyimbolkan kesuburan. Di luar empat kelompok itu masih juga ada sejumlah kain batik yang diciptakan berkaitan dengan momen-momen penting tertentu.

Sebut saja ada batik motif Thomas Cup, yang dibuat tahun 1950 di Solo saat Indonesia pertama kalinya berhasil merebut piala Thomas. Dalam motif itu tercetak penuh dengan gambar bola bulu tangkis dan raket.

Contoh lain yang tak kalah menariknya adalah kain batik ‘Ganefo’ yang dibuat tahun 1960 an. Produk ini merupakan salah satu megaproyek presiden pertama RI, Soekarno saat itu. Motif batik yang mengacu pada even Games of the New Emerging Forces (Ganefo) ini menampilkan komposisi warna-warni pelangi yang disebut ‘jelamprang’.
Kekhasan dari batik ini yakni memiliki bentuk variasi tumpal (komposisi segitiga) di tengah berbingkai motif border.

“Jadi kain ini mengacu pada even Ganefo, yang saat itu memang diminta beliau (Soekarno) kepada artisan untuk membuat batik dengan motif tersebut,” jelas Juliana. Selain Ganefo, motif lain yang juga atas permintaan Soekarno kepada artisan adalah batik motif Badminton yang saat itu merupakan pertama kalinya bagi Indonesia meraih piala Thomas Cup.

Selain itu ada juga koleksi kain batik ‘Hokokai’ dengan layout pagi-sore oleh Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa, sebuah asosiasi yang dibentuk pada pemerintahan Jepang (1942-1945). Bahkan oleh Oey Siok Kiem juga membuat untuk pasar Jepang pada Perang Dunia II. Motif gambar pada batik ini dikenal paling ramai (baroque).

Ada kupu-kupu, bunga sakura dan bungan sebanyak 7 warna dan isen yang paling detail penuhi areal permukaan pada kain. Batik jenis ini dibuat di Pekalongan Jawa Tengah pada 1950 dengan metode canting berbahan katun.

 

Suasana Museum Kain dengan berbagai koleksinya. (Foto: Ist)

Suasana Museum Kain dengan berbagai koleksinya. (Foto: Ist)

Kisah Cinta Ratu

Kain-kain koleksi yang masuk ke dalam kelompok sakral umumnya yang berkaitan dengan penggunaan pada momen-momen penting tertentu dan oleh keluarga keraton. Di balik terciptanya salah satu kain batik sakral ini ada kisah menarik tentang seorang Ratu.

Dalam cerita itu dikisahkan Kanjeng Ratu Beruk yang merupakan permaisuri dari Sri Sultan Susuhunan Paku Buwono III(1732-1788) dilanda kesedihan lantraan dirinya tidak dicintai lagi oleh sang raja. Dalam kesedihannya itu, sang Ratu pun menghabiskan waktunya untuk membatik, hingga terciptalah motif ‘truntum’.

Keberhasilan sang Ratu menciptakan motif ‘truntum’ yang berarti tumbuh dan bersatu inilah akhirnya membuat cinta mereka bersemi dan bersatu kembali. Batik koleksi di museum ini dibuat pada 1960an oleh Kanjeng Raden Tumenggung Hardjonegoro sebagai eksprerimen berdasarkan kisah sedih dari kanjeng Ratu Beruk tersebut.

Menurut Juliana Taufik, museumnya saat ini memajang 61 kain dari total 600 jenis kain langka yang dikoleksi. Kain ini dihimpun lembar demilembar sejak 1970 oleh Obin Komara bersama suaminya Roni Iswandi (sudah meninggal awal tahun ini). Kain-kain langka ini diperoleh dari 16 daerah di Indonesia yang sebagian besar berupa batik, dan sisanya ada jenis ikat, songket dan lainnya.

“Ibu Obin sangat cinta dengan kain-kain Nusantara. Saking cintanya, museum ini pun didirikan benar-benar karena idealisme dan murni non profit,” ujar Juliana mengutip obsesi Obin.

Awal ide membangun museum kain ini, lanjut Juliana, adalah dari suaminya ketika masih hidup karena melihat kecintaan istrinya pada kain dan budaya Indonesia. Untuk itulah Roni ingin mempersembahkan museum untuk Obin karena Roni tahu Obin sangat mencintai kain dan kebudayaan Indonesia.

“Jadi tujuan didirikan museum ini sangat sederhana yaitu untuk menggugah dan menginspirasi masyarakat luas untuk mencintai kain dan budaya bangsa Indonesia,” ujar Juliana mengutip ucapan Obin. Sebab pada intinya Obin ingin membagi rasa cinta terhadap kain ke semua orang.

Sejak dibuka operasionalnya pada 20 November, pengunjung pun mulai berdatangan ke museum ini. Rata-rata jumlah kunjungan 10 hingga 15 orang per hari. “Kalau dilihat pengunjungnya, sebagian besar kalangan domestik, ya sekitar 60 persen,” kata Juliana.

Mengingat jumlah koleksinya yang mencapai 600 lembar kain, sementara yang bisa ditampilkan terbatas, maka direncanakan akan digilir dalam rentang empat hingga enam bulan sehingga semuanya bisa diketahui pengunjung. (ana)

Usung Tiga Tema, Perupa Sasya Pameran di Bali

Perupa Sasya Tranggono memeragakan dua tokoh wayang. (foto:inilahbali.com)

Perupa Sasya Tranggono memeragakan dua tokoh wayang. (foto:inilahbali.com)

inilahbali.com, BADUNG – Untuk ketiga kalinya, perupa Sasya Tranggono menggelar pameran di Bali. Pameran ketiga yang sekaligus lelang amal bertajuk “From Indonesia with Love” ini didedikasikan untuk Bali Pink Ribbon Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang fokus melakukan kampanye kanker payudara di Bali.

“Pameran dan lelang amal ini saya didedikasikan kepada Bali Pink Ribbon Foundation, “ ujar Sasya sesaat sebelum acara pembukaan pameran di Seminyak, Kuta Bali, Sabtu (4/1).

Dalam pameran kali ini, Sasya mengusung tiga tema sekaligus yakni wayang, bunga dan kupu-kupu. Tema ini dinilai mewakili ranah keindonesiaan yang bagi dirinya dinilai sebagai bagian dari periodisasi penting kekaryaannya.

“Tema wayang, bunga, dan kupu-kupu cukup mewakili ranah keindonesiaan yang menjadi bagian dari periodisasi penting kekaryaan saya,” papar perupa kelahiran Jakarta 25 Desember 1963 ini.

Hampir semua sosok wayang karyayang ditampilkan itu merefleksikan narasi dan filosofi yang terkandung dari seni tradisi tersebut. Ini tak terlepas dari darah Jawa yang mengalir dalam dirinya sehingga dalam karya-karyanya yang dituangkan dalam kanvas tersirat jelas adanya pemahaman dan pendalaman karakter terhadap wayang itu sendiri.

Sementara dalam karyanya yang bertema bunga, terkesan cukup jelas ungkapan rasa sang pelukis yang menggambarkan berbagai emosi dan keindahan dalam hidup manusia. Dalam pemilihan kombinasi warna pun tampak warna-warni, mulai dari yang lembut hingga mencolok merah.

“Lukisan bunga juga merupakan ungkapan hati saya untuk berbagi kisah hidup,” ujar Sasya yang sudah melakukan pameran di sejumlah negara seperti Singapura, Kuala Lumpur.

Karya-karyanya pun cukup menyedot perhatian orang-orang besar baik di dalam negeri maunya,seperti mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Pramono Anung, Joop Ave, Fuad Hassan, Hary Tanoesoedibjo, Ciputra, Hashim Djojohadikusumo. Sementara tokoh mancanegara yang mengoleksi lukisannya antara lain presiden Corazon Aquino (Filipina), Dato Tony Fernandez (Malaysia), penyanyi Daniel Sahuleka (Belanda), dan Lopez da Cruz (Portugal).

“Saya kadang tak terpikirkan suatu ketika bisa duduk berdampingan dengan tokoh politisi,” ujarnya yang mencontohkan pertemuannya dengan Pramono Anung.

Bagi Sasya, keindahan karya-karya yang dihasilkannya itu dirasakan sebagai rahmat dan kasih Tuhan dalam menolong dirinya bermetamorfosis melewati masa-masa sulit dalam kehidupannya.

“Saya merasa kasih Tuhan begitu besar telah menolong dalam bermetamorfosis melewati masa-masa sulit dalam kehidupan saya,” ujarnya. Berkat besarnya kasih Tuhan itu pula, dia merasakan karya-karyanya memancarkan aura kebesaran Tuhan. Padahal ,kata Sasya, sebelumnya dirinya tak pernah bermimpi untuk jadi perupa.

Dia pun melukiskan kisah perjalanan hidupnya yang berwarna yang mirip warna-warni dalam karyanya. Sebab ketika keluarganya yang kedua orang tuanya adalah dokter mendorong menjadi dokter, dia malah memilih kuliah di Industrial Engineering & Operations Research di Syracuse University New York. Selanjutnya dia pun mengambil program MBA di Rotterdam School of Management di Erasmus Universiteit Belanda.

“Saya tidak jadi dokter karena tidak kuat melihat darah,” aku Sasya.

Kini, sejak menggeluti sebagai pelukis yang sudah berlangsung 20 tahun, Sasya sudah memiliki koleksi ratusan karya yang terfokus padatiga tema yakni bunga, wayang dan kupu-kupu. (ana)