Ibu PKK Denpasar Dilatih Membuat “Banten”

Pelatihan Banteninilahbali.com, Denpasar: Bagi umat Hindu khususnya di Bali, ‘banten’ merupakan sarana utama yang menyertai setiap kegiatan keagamaan maupun setiap upacara (yadnya). Banten banyak mengandung makna dan filosofi yang dalam sehingga banten disakralkan dan diupayakan kelestariannya.

Demikian dikatakan Sukerti, salah seorang pakar banten dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar saat memberikan pelatihan membuat canang sari dan kewangen kepada kaum ibu PKK di lingkungan Banjar Tulangampiang Denpasar Utara, Minggu (22/9). Hadir pada acara itu Ketua WHDI Kecamatan Denpasar Utara, Nyonya Made Lodra, Kelian adat Br. Tulangampiang, Nasib Arnawa dan parajuru banjar setempat.

Menurut Nyonya Made Lodra, tujuan pelatihan ini adalah dalam rangka untuk membentuk keder-kader banten atau tukang banten di wilayah Kecamatan Denpasar Utara.

“Saat ini yang mengerti tentang bebantenan kebanyakan dari kalangan pengelingsir atau orang tua. Sedangkan generasi muda banyak yang kurang paham apalagi menyangkut makna dan arti banten itu sendiri,” paparnya.

Dengan adanya program pelatihan membuat banten ini nantinya diharapkan peserta yang telah mengikuti pelatihan dapat menularkan kemampuannya kepada keluarga di lingkungan tempat tinggal atau masyarakat lainnya.

Sukerti mengatakan, saat ini banyak masyarakat dalam membuat banten lebih berdasarkan pada rasa saja dan kurang memperhatikan sisi aturan yang bersumber pada sastra. Akibatnya terkesan banten asal buat dan bahkan terkesan ngabehin alias berlebihan yang sebenarnya tak perlu menjadi ada yang pada gilirannya banyak pengeluaran biaya karena tidak efektif.

Pada dasarnya banten itu adalah lambang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia, dan alam itu sendiri. Oleh karena itu, lanjut Sukerti, banten menjadi alat bantu atau sarana bagi umat Hindu dalam mewujudkan keinginan, bhakti dan cinta kasihnya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Dalam pelatihan itu Sukerti mencontohkan bagaimana cara membuat banten seperti canang sari dan kewangen. Dalam pembuatannya tidak hanya memperhatikan keindahan namun penataan warna harus sesuai dengan pengider-ider.

“Selama ini masyarakat hanya memperhatikan keindahan canang semata namun tidak seuai dengan pengider-ider atau Ista Dewata terutama dalam menata bunga pada canang sari,” pungkas pakar banten ini. (der)

Usaha Warga Asing di Denpasar Disidak

Sidak WNAinilahbali.com, Denpasar: Tim gabungan yang dimotori Badan Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) Kota Denpasar, Imigrasi, Kepolisian, Dinsosnaker, Dinas Pariwisata, Dinas Kependudukan serta Dinas Catatan Sipil dan Kecamatan Denpasar Timur melakukan razia terhadap warga negara asing (WNA) di kota Denpasar, Senin (23/9). Razia di wilayah Denpasar timur itu menyasar pada kelengkapan surat dokumen bagi WNA yang melakukan aktivitas bisnis di kota Denpasar.

Dalam sidak yang dipimpin Kabid Ketahanan Bangsa dan Masyarakat Kesbangpol Kota Denpasar, I Wayan Sudana, tim menemukan ada WNA tidak bisa menunjukkan surat kelengkapan diri dan juga menemukan usaha yang dikelolanya tanpa dilelengkapi izin usaha seuai aturan yang berlaku.

“Ini sudah menjadi agenda rutin kami untuk tertib administrasi penduduk, tidak hanya bagi warga lokal melainkan juga warga asing. Karena selain berkunjung mereka kebanyakan juga bekerja dan membangun usaha di sini (Denpasar-red), perlu mendapat perhatian dan pengawasan yang ketat,” kata Sudana.

Sudana menjelaskan timnya mengawali operasinya di tempat usaha penjualan baju Polo Ralph Lauren di kawasan Jl. Waribang Denpasar timur. Usaha tersebut dikelola seorang WNA, Chung Chan Ho. Namun WNA asal Korea yang sudah menjalani usahanya sejak 10 tahun silam itu ternyata sudah memiliki SK WNI dari pengadilan saat menikah dengan istrinya yang juga warga Korea. Hanya saja surat dokumen tentang istrinya yang belum bisa diperlihatkan.

“Tidak bisa menunjukan dokumen pernikahannya hari ini, kami minta foto kopi kelengkapan dokumen suratnya sudah ada saat kami datang nanti,” kata Sudana yang diamini Chung.

Selain masalah dokumen diri, lanjut Sudana, usaha yang dikelola hampir 10 tahun lamanya itu ternyata tidak memiliki surat izin usaha. “Masalah kelengkapan izin kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas Perizinan,” jelasnya.

Usai sidak perusahaan baju, tim melanjutkan menuju homestay dan vila di kawasan Jl. Raya Padanggalak. Di homestay tidak ditemukan permasalahan. Tapi di vila yang berada di sebelahnya yang milik WNA asal Jerman, pengelola tak bisa menunjukkan izin usahanya termasuk dokumen diri terkait pemilik dan penghuni vila.

“Sampai sejauh ini belum ada WNA yang menyalahgunakan surat dokumen diri, baik visa maupun lainnya termasuk pelanggaran imigrasi. Namun seterusnya akan kami tetap pantau,” imbuh Putu Hendra Sudiarsa, staf pengawasan dan imigrasi. (der)

Gubernur Bali Instruksikan PU Cek Tebing Uluwatu Retak

Uluwatuinilahbali.com, Badung: Santernya pemberitaan media massa mengenai retaknya tebing pada kawasan pura Sad Kahyangan Jagat Pura Uluwatu, Kecamatan Kuta Kabupaten Badung direspon serius oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Melalui Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, Kamis, (19/9). Gubernur Bali menginstruksikan Kepala Dinas PU Provinsi yang baru dilantik, Astawa Riadi untuk segera turun ke lokasi dan mengecek kondisi di lapangan.

Hal ini dimaksudkan guna guna bisa mengambil langkah-langkah antisipasi terhadap keretakan tersebut. “Pura-Pura Sad Kahyangan harus segera mendapatkan perhatian serius, karena merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Bali,” ujar Wagub Sudikerta.

Sementara itu Kepala Dinas PU Bali, Astawa Riadi yang dihubungi secara terpisah mengatakan bahwa tim dari Dinas PU Provinsi Bali langsung turun setelah menerima instruksi dari Gubernur.

“Kami saat ini sudah turun ke lapangan mengumpulkan data, untuk kemudian menyiapkan kajian dan mengambil langkah-langkah penyelamatan pura selanjutnya,” kata Astawa Riadi. (ana)

Gubernur Pastika Berbagi Tips “3N” Kepemimpinan

Gubernur Tes Jurusinilahbali.com, Buleleng: Tidak ada istilah libur untuk Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Di sela-sela rutinitasnya sebagai orang nomor satu di jajaran Pemprov Bali, pada hari Minggu pun Pastika turun ke lapangan. Seperti pada Minggu (22/9), mantan Kapolda Bali ini kembali meninjau SMAN Bali Mandara di kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Kunjungannya ke sekolah berstandar internasional itu tercatat sudah yang ke-9 kalinya.

Dalam kesempatan tatap muka dengan para siswa, gubernur asal Desa Sangalangit Buleleng ini berbagi tips untuk menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin, kata Pastika, harus punya “3N” yaitu Nurani, Nalar dan Nyali. Dengan nurani, seorang pemimpin akan memiliki rasa empati dan kasih sayang kepada setiap orang.

“Selanjutnya, pemimpin juga harus punya nalar yang baik sehingga dapat memecahkan setiap persoalan yang dihadapi,” tambahnya. Selain itu, nyali juga tak kalah pentingnya bagi seorang pemimpin. “Seorang pemimpin harus berani dan punya nyali, jika takut maka akan sulit mengambil sebuah keputusan,” tegasnya.

Agar punya nyali, lanjut mantan Ketua Tim Investigasi Bom Bali I ini, seseorang yang akan menjadi pemimpin harus membekali diri dengan ilmu bela diri yang cukup. Namun dia mengingatkan agar bekal bela diri tidak digunakan untuk menyerang orang. “Dengan kemampuan bela diri, kalian akan berani berhadapan dengan siapapun,” ujarnya kepada para siswa SMAN Bali Mandara.

Untuk itu, gubernur berharap agar pihak sekolah mengintensifkan ekstra kulikuler bela diri di lembaga pendidikan pencetak calon pemimpin masa depan tersebut. Karena selain cerdas, seorang calon pemimpin harus punya fisik yang tangguh. Harapan gubernur yang mantan Kapolda Bali ini pun terjawab, karena ternyata para siswa Bali Mandara mampu menunjukkan keliahaiannya dalam memperagakan seni bela diri kempo, karate dan pencak silat. Bahkan, gubernur sempat adu jurus silat dengan seorang siswa.

Menitikkan Air Mata

Selain berbagi tips kepemimpinan, Pastika juga mengutarakan rasa harunya setiap berkunjung ke SMAN Bali Mandara. “Saya selalu menitikkan air mata setiap datang ke sini,” ujarnya. Semangat para siswa dan kemajuan yang dicapai membuatnya bangga dengan sekolah tersebut.
“Hal ini menguatkan keyakinan saya bahwa sistem pendidikan ini tepat dan sangat dibutuhkan Bali,” tandasnya. Dengan adanya sekolah ini, anak berprestasi dari keluarga kurang mampu mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan berkualitas tanpa harus dibebani biaya.
“Kalian patut bersyukur karena tak semua anak dapat kesempatan seperti ini,” imbuhnya. Untuk itu, para siswa diminta untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya selama mengikuti pendidikan di SMAN Bali Mandara. (ana)

Di Balik Magnet Abadi Pura Besakih

Pura Besakihinilahbali.com, Karangasem: Berabad-abad Pura Besakih sudah tersohor sebagai tempat pemujaan umat Hindu Nusantara yang memiliki kisah unik dan tak pernah kehilangan pamornya. Tak terhitung entah berapa wisatawan yang sudah datang ke Besakih, untuk melihat dari dekat kharisma tempat suci krama Bali yang senantiasa dijaga dan dibela mati.

Menurut Jro Mangku Jana, salah satu pemangku di Pura Besakih, Rabu (11/9), konsep yang melatarbelakangi pendirian Pura Agung Besakih adalah tradisi megalithikum dan ajaran Hindu Siwa Siddhanta. Konsep tradisi megalit dapat dilihat dari penataan pura berteras merupakan kelanjutan dari bangunan mpunden berundak, sebagai simbol gunung, bumi, dan alam semesta yang berfungsi untuk tempat pemujaan kekuatan alam yang dahsyat ( super natural power).

Pura Besakih sebagai Pura Pusat ( mother temple) terdiri dari beberapa kelompok pura, antara lain pura inti terdiri dari 18 pura. Kelompok pura inti yang terdiri dari 18 kelompok adalah satu kesatuan Pura yang mempunyai keterikatan fungsi masing – masing dalam Prabhawa Asta Iswarya ( kemahakuasaan ) Tuhan. Pada mulanya merupakan tanggung jawab pembangunan, pemeliharaan dan penyelenggaraan upacara oleh Raja Bali di masa lalu, yang dibebankan kepada raja yang tergabung dalam Asta Negara, yaitu ( 8 ) kelompok kerajaan yang lebih kecil.

Mengingat tidak ada lagi kerajaan, maka tanggung jawab pembangunan, pemeliharaan dan penyelenggaraan upacara selanjutnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota se Bali. Antara lain pembagian ‘emponan’ pura meliputi Pemerintah Daerah Provinsi Bali dan Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Penataran Agung. Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Kiduling Kreteg dan Pura Prajapathi Hyangaluh.

Sementara Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Ulun Kulkul dan Pura Bangun Sakti. Pemerintah Kabupaten Bangli mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Batu Madeg dan Pura Peninjauan. Pemerintah Kabupaten Klungkung mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Gelap dan Pura Tirta Pingit. Pemerintah Kabupaten Jembrana mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Manik Mas dan Pura Pesimpangan. Pemerintah Kabupaten Badung mempunyi beban tanggung jawab terhadap Pura Dalem Puri dan Pura Pasar Agung. Pemerintah Kabupaten Buleleng mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan, serta Pemerintah Kota Denpasar mempunyai beban tanggung jawab terhadap Pura Pengubengan dan Pura Merajan Selonding

Sedangkan kelompok pura lainnya adalah Pura Catur Lawa meliputi Pura Ratu Pasek, Pura Ratu Dukuh, Pura Ratu Penyarikandan Pura Ratu Pande. Sementara Pura Pedharman meliputi Pura Pedharman I Gusti Ngurah Sidemen, Pura Pedharman I Gusti Ngurah Dauh, Pura Pedharman Sukawati, Pura Pedharman Kaba Kaba, Pura Pedharman Mengwi, Pura Pedharman Ida Dalem Klungkung, Pura Pedharman Blahbatuh, Pura Pedharman Sukahet, Pura Pedharman Bhujangga Sakti, Pura Pedharman Telabah, Pura Pedharman Telabah Apit Yeh, Pura Pedharman Arya Kanuruhandan Pura Pedharman Arya Kenceng.

Jro Mangku BesakihUntuk pelaksanaan upacara di Pura Besakih dilaksanakan hampir setiap saat, yang pelaksanaannya berdasarkan perhitungan sasih ( bulan ) pawukon (pertemuan Pancawara dengan Saptawara ) yang dapat diklasifikasikan sebagai upacara setiap tahun yang terdiri dari upacara piodalan dan upacara ngusaba.

Upacara piodalan berlangsung tiap tahun berdasarkan waktu yang telah ditentukan pada setiap pura, sedangkan upacara ngusabha, terkait upacara penghormatan atas limpahan anugerah kesuburan. Adapun nama-nama upacara tersebut meluputi Pura Batu Madeg disebut Usabha Siram, Pura Bangun Sakti Usabha Penema, Pura Dalem Puri Usabha Gede, Pura Kiduling Kreteg Usabha Nyungsung, Pura Banua Usabha Buluh, Pura Banua Usabha Ngeed.

Disamping itu ada pula pelaksanaan upacara aci nyatur yang bertujuan untuk memohon keharmonisan alam semesta atas ancaman bencana alam. Diantaranya Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap, Aci Penyeheb Brahma di Pura Kiduling Kreteg, Aci Pengurip Gumi di Pura Ulun Kulku, Aci Penaung Bayu di Pura Batu Madeg.Upacara lain yang juga dilaksanakan adalah Aci Betara Turun Kabehyang dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Kedasa bulan April, bertujuan untuk memohon kemakmuran alam semesta beserta isinya ( sarwa prani hitang karah ).

Sementara upacara setiap 10 tahun dilaksanakan pada saat Purnama sasih Kedasa setiap sepuluh tahun sekali upacaranya disebut Panca Wali Krama bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan alam semesta mikrokosmos dan makrokosmo, serta upacara setiap seratus tahun dilaksanakan pada saat Purnama sasih Kedasa setiap seratus tahun sekali upacaranya disebut dengan Eka Dasa Rudra juga bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan alam semesta makrokosmos dan mokrokosmos dalam lingkup yang lebih besar.

Banyaknya proses dan rangkaian upacara agama agar berlangsung terus yang bertujuan untuk menjaga harmonisasi dan keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos, maka dipandang perlu untuk mendapat perhatian yang seksama dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali. (hms)