Category Archives: Ragam

‘Bali Harmoni’ Dukung Reklamasi Tanjung Benoa

Bali Harmoni Dukung Reklamasi Tanjung Benoa inilahbali.com, Denpasar: Sikap pro dan kontra terhadap rencana reklamasi di Tanjung Benoa masih belum reda. Setelah berulang kali dari ForBali yang dimotori Wayan ‘Gendo’ Suardana menggelar demo menolak reklamasi, kini giliran massa yang tergabung dalam ‘Bali Harmoni’ melancarkan aksi demo yang mendukung dilakukannya revitalisasi atau reklamasi.

Aksi dari Bali Harmoni ditunjukkan sekitar puluhan warga dari Desa Tanjung Benoa mendatangi gedung DPRD Bali, Rabu (16/10). Mereka menuntut agar Tanjung Benoa segera direvitalisasi sehingga terhindar dari ancaman kerusakan lingkungan bahkan ancaman tenggelam.

“Kami inginkan tanjung Benoa agar segera direvitalisasi,” teriak salah satu koordinator aksi, Wayan Ranten saat diterima anggota DPRD Bali, Dewa Nyoman Rai dan Gusti Putu Wijra di lobi gedung DPRD Bali.

Menurut Ranten, kondisi tanjung Benoa saat ini rawan tenggelam. Beberapa faktor penyebabnya seperti akibat reklamasi di pulau Serangan, reklamasi di pelabuhan Benoa serta reklamasi sejumlah titik di kawasan Sanur.

Terkait hal itu, kata Ranten, revitalisasi tanjung Benoa harus segera dilakukan. Bahkan keuntungan jika jadi direklamasi, maka dipastikan akan sangat menguntungkan karena bisa membuka lapangan kerja.

Terhadap tuntutan tersebut, anggota DPRD Bali Dewa Nyoman Rai dan Gusti Putu Wijra menyatakan sependapat dengan aspirasi yang disampaikan Bali Harmoni. “Walaupun di Dewan masih ada perbedaan sikap, tapi kami secara pribadi setuju dengan aspirasi Bali Harmoni yang menginginkan perlunya revitalisasi tanjung Benoa, karena dampak positifnya lebih banyak dari negatifnya,” ujar Dewa Rai yang dari PDI Perjuangan tersebut.

Dampak positifnya, menurut Dewa rai, selain memperbaiki lingkungan juga kalau setelah reklamasi akan bisa menyerap banyak tenaga kerja. Sikap yang sama juga ditunjukkan Gusti Putu Wijra yang mantan wakil bupati Karangasem ini.

Sebelum ke DPRD Bali, terlebih dahulu rombongan demo ini mendatangi kantor Gubernur Bali yang berada di sebelah timur gedung DPRD. Mereka diterima Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Made Sukadana di depan pintu gerbang, dan menampung aspirasinya untuk selanjutnya akan diteruskan kepada Gubernur Bali.

Sebelumnya, belasan warga Tanjung Benoa yang dipimpin Bendesa Adatnya Nyoman Wana Putra juga mendatangi kantor gubernur yang diterima wakil gubernur ketut Sudikerta. (der)

Lomba ‘Bapang Barong’ di Denpasar

Baronginilahbali.com, Denpasar: Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan menggelar acara ‘Lomba Bapang Barong’ di lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, Sabtu (12/10). Acara yang terbuka untuk umum ini berlangsung meriah yang menyedot perhatian masyarakat.

Lomba ini tidaklah mudah dilakukan. Terbukti salah seorang peserta jatuh sempoyongan usai mapang barong yang beratnya sekitar 75 kg hingga 90 kg.

Seperti yang dikatakan budayawan Prof Wayan Dibia, bahwa mapang barong tidklah gampang. Menurut guru besar di Institut Seni Indonesia Denpasar ini, diperlukan teknik dasar menari yang baik di samping syarat fisik harus kuat.

“Mapang barong itu diperlukan teknik dasar menari di samping juga didukung fisik yang kuat,” papar Dibia.

Dalam lomba tersebut, 11 orang dari 21 peserta yang ambil bagian bergiliran menunjukkan kebolehannya di hadapan para juri, pengamat maupun masyarakat penonton. Barong yang memiliki bobot antara 75 kg hingga 90 kg mampu dimainkan dengan lincah oleh beberapa penari bapang.

Masing-masing penari bapang barong diwajibkan melakukan gerakan bapang sesuai durasi waktu yang ditentukan dan ditambah kreativitasnya. Unsur-unsur yang dinilai meliputi gerakan, kreativitas, dinamisasi, tempo, penguasaan panggung, penjiwaan dan lain-lain.

Para peserta pun secara bergantian melakoninya dengan diiringi penabuh dari Sekeha Gong “Tirta Udiyana Sari” Sanur Denpasar Selatan dan Sekeha Gong “Pura Jurit” Pagan Klod Denpasar Timur.

Kepala Dinas Kebudayaan Denpasar, Made Mudra mengatakan, digelarnya lomba bapang barong kali ini bertujuan untuk menggali, melestarikan sekaligus mengembangkan seni bapang barong di kalangan generasi muda. Di samping itu juga sebagai upaya untuk mendukung Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan.

Pada lomba itu, selain hadir pengamat juga sejumlah juri antara lain Prof Wayan Dibia, Komang Astita, Gusti Ngurah Artha, Surya Negara, Muliana, Arini, Gusti Ngurah padang dan lainnya. (der)

Festival Coffee di Gianyar Disambut Antusias Wisatawan

Festival Coffeeinilahbali.com, Gianyar: Festival Coffe, Food & Textile yang digelar Dinas Pariwisata Pemkab Gianyar Bali di jaba Pura Tirta Empul Tampaksiring mampu menyedot perhatian wisatawan. Festival ini dimaksudkan untuk menyinergikan sektor pertanian, perkebunan, perindustrian dengan sektor pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Gianyar, Anak Agung Ari Brahmanta mengatakan, festival yang dirangkaikan dengan Hari Pariwisata ini bertujuan menumbuhkembangkan kreasi produk baru baik coffee, food dan textile.

“Yang terpenting festival ini menjadi ajang promosi kepada wisatawan,” ungkap Ari Brahmanta, di sela-sela acara festival yang berlangsung dua hari, mulai (6/10).

Karuan saja wisatawan yang hadir tampak antusias mencoba mencicipi aneka kuliner yang disajikan peserta festival seperti nasi sela, pepes telengis, ayam betutu, daluman, cendol, dan makanan serta jajan tradisional Bali lainnya.
Begitu juga produk kopi menjadi favorit para undangan yang datang untuk mencicipi. Semua produk kopi yang ditawarkan merupakan produk petani Gianyar, salah satunya adalah kopi Luwak hasil olahan petani Tampaksiring.

“Wow, sedap sekali kopi Luwaknya,” komentar di antara mereka seusai nyeruput kopi.

Pilihan Delegasi APEC
Dipilihnya lokasi jaba Pura Tirta Empul karena obyek wisata ini menjadi primadona bagi kalangan wisatawan yang rata-rata jumlah pengunjung mencapai 1.200 orang per harinya. Selain itu juga atas pertimbangan Pura Tirta Empul menjadi salah satu destinasi pilihan para delegasi APEC Summit 2013.

“Tempat ini sangat efektif untuk ajang promosi sekaligus memberikan inspirasi kepada pedagang sekitarnya terhadap produk baru,” imbuh Ari Brahmanta.

Festival Coffee, Food and Textile ini terselenggara atas kerja sama Dinas Pertanian, Disperindag, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas PP dan KB, PHRI, PKK, Dharma Wanita serta Desa Pakraman Manukaya Let.

Peserta festival berasal dari perwakilan masing-masing kecamatan yang ada di Gianyar dengan menampilkan olahan kuliner yang menjadi khas di daerahnya. Seperti olahan rebung bambu tabah yang disuguhkan dari Kecamatan Payangan.

Festival juga dimeriahkan masakan khas India yang dihadirkan untuk menambah semarak festival.

Yang tak kalah menariknya, di sela-sela festival juga dimeriahkan dengan lomba melukis tong sampah yang diikuti pelajar SMA/SMK se- Kabupaten Gianyar, dan lomba foto. (hug)

Bupati Geredeg Kecewa di “Rumah Pintar”

Geredeg kecewa di rumah pintarinilahbali.com, Karangasem: Bupati Karangasem I Wayan Geredeg tampak kecewa ketika mendapati kondisi gedung “Rumah Pintar” di Desa Munti Gunung yang tidak beres. Padahal baru saja selesai diupacarai pemlaspasan.

Ketidakberesan itu terlihat dari hasil pengerjaan akhir pada tembok penyengker, tangga, sebagian dinding ruangan retak dengan kualitas rendah. Padahal sesuai rencana, Rumah Pintar ini bakal ditinjau juga oleh Nyonya Ani Yudhoyono.

Terhadap kondisi tersebut, Geredeg meminta BPMPD selaku leading sector agar segera melakukan penanganan kelemahan kondisi fisik bangunan agar memenuhi syarat kualitas standar. Di samping itu agar menyiapkan pelaksanaan program sesuai misi awal pendirian Rumah Pintar. Dan juga diharapkan instansi terkait untuk melengkapi semua kelengkapan pengadaan bangku dan lainnya.

Seperti diketahui, Rumah Pintar berukuran 20 X 18 meter ini didanai Rp200 juta. Bangunan ini terdiri dari 5 jenis ruangan utama di antaranya 4 ruang untuk sentra dan 1 ruangan untuk administrasi.

Sarana Rumah Pintar berorientasi pada program pembelajaran mengoptimalkan potensi multiple inteligence dan lifeskill dengan pengelompokan sarana meliputi buku, CD interaktif, permainan edukatif dan panggung mini.

Sedangkan pegembangan 5 sentra terdiri dari sentra buku untuk menyediakan buku bacaan, sentra bermain merupakan permainan edukatif bagi tumbuh kembang anak, sentra panggung peyediaan ruang aktivitas dan kreasi anak, sentra komputer penyediaan sarana teknologi komunikasi dan sentra kriya untuk ketrampilan dan kecakapan hidup sesuai kebutuhan.

Pelaksanaan kegiatan yang difasilitasi di Rumah Pintar antara lain membaca buku, menonton secara interaktif melalui komputer, menonton VCD secara pasif, bermain peran, berkesenian dan berapresiasi menonton kegiatan panggung dan pengembangan kecakapan hidup ramaja dan ibu usia produktif.

Program Rumah Pintar dianggap berhasil apabila 80% peserta mampu memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian masyarakat. Program pendidikan keaksaraan wirausaha ini tidak menargetkan jumlah lulusan tetapi peserta memiliki ketrampilan hidup untuk menolong dirinya sendiri. (ana)

Art Summit 2013: Naikkan Pendapatan tanpa Komersial!

Bale Agunginilahbali.com, Denpasar: Kemasan pertunjukan seni tradisional dari berbagai daerah di Indonesia bisa menjadi sebuah atraksi yang unik dan menarik bagi wisatawan. Saat ini tengah dicari kemasan seperti apa seharusnya seni pertunjukan itu dikelola sehingga mampu memberi nilai tambah namun bukan dengan cara komesialisasi.

Demikian terungkap dari wawancara sangat singkat dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu sesaat sebelum memulai acara bertajuk ‘Art Summit Indonesia VII’ di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa (8/10) malam.

“Pementasan aneka jenis seni pertunjukan itu dapat memberi nilai tambah, tapi bukan burarti komersial. Untuk itu perlu bagaimana mengelola seni pertunjukan yang baik, agar bisa meningkatkan pendapatan yang layak bagi penyelenggara maupun pemerannya tanpa harus komersial,” papar Mari Pangestu.

Dalam rangkaian kegiatan ini pula diselenggarakan juga workshop yang melibatkan sejumlah pakar di bidang yang terkait. Dari workshop ini pula ingin diperoleh jawaban atas pertanyaan, antara lain: seperti apa sih “pasar” seni pertunjukan itu?

Bagi Mari, pengelolaan itu sangatlah penting, sehingga tidak hanya mampu mempertunjukkan keseniannya, tapi juga mampu memberikan pendapatan yang layak. Dengan begitu, ke depan diharapkan makin banyak orang yang tertarik untuk menggarap seni pertunjkan.

Kegiatan Art Summit VII ini melibatkan seniman pertunjukan dari sejumlah perguruan tinggi seni, yakni ISI Yogyakarta, Solo, Bandung, Jakarta dan Denpasar, serta juga termasuk dari 7 negara sebagai partisipan.
Rektor ISI Denpasar, Dr I Gede Arya Sugiartha mengatakan seni untuk menghibur pada delegasi itu menyuguhkan lima garapan seni tabuh dan tari yang terdiri atas tiga garapan ISI Denpasar dan dua garapan ISI Bandung.

Garapan seni itu antara lain karya I Wayan Sutirta dengan iringan musik yang dikemas oleh I Nyoman Kariyasa, musik Cakra Esa Galura dan Lorong Masa ciptaan Dody Satya dan karya musik Manihot karya Oya Yukarya, Demikian pula penampilan musik yang tidak kalah menarik lainnya berjudul “Ku tak Sabar” ciptaan Agus Teja Sentosa serta tari Jay Sita karya I Gede Oka Surya Nega. (der)